Wednesday, July 26, 2017

17 tradisi di beberapa daerah di jawa UPACARA-UPACARA ADAT DI JAWA

17 tradisi di beberapa daerah di jawa UPACARA-UPACARA ADAT DI JAWA
19 tradisi di beberapa daerah di jawa
UPACARA-UPACARA ADAT DI JAWA
 Adat istiadat adalah sebuah kebudayaan yang sudah menjadi tradisi pada setiap masyarakat yang sudah menjadi ketentuan daerah tersebut. Upacara adat Jawa yang pertama adalah kenduren atau selametan. Upacara ini dilakukan secara turun temurun sebagai peringatan doa bersama yang dipimpin tetua adat atau tokoh agama.
Adapun cara atau upacara-upacara adat jawa sepertidi bawah berikut :

1. RuwahDesa ( pada bulan ruwah hitungan jawa )
RUAH DESA ini biasanya Di adakan tiap tahun sekali pelaksanaannya yang seing di lakukan bulan ruwah dan sebelum bulan puasa yaitu tujuan acara ruwah desa ini adalah untuk menginggat dan mendoakan nenek moyang yang telah mendirikan desa atau kampung tersebut  selain itu  mendoakan untuk keselamatan bersama yang tinggal di kampong atau yang tinggal di desa tersebut .

Dan pada bulan itu biasanya di adakan acara hiburan di tempat daerah yang di anggap keramat tersebut atau di adakan acar arak-arakan keliling desa (karnafal) dan tempat hiburan ialah tampat yang di jadikat tempat selamatan ( tempat berlangsunya acara ruah desa )

2. UPACARA ADAT  KASADA, SUKU TENGGER
Bagi masyarakat Suku Tengger, Upacara adat adalah salah satu wujud rasa syukur masyarakat Tengger kepada tuhan.  Ada banyak upacara adat di masyarakat Tengger yang memiliku tujuan bermacam-macam diantaranya meminta berkah, menjauhkan malapetaka, wujud syukur atas karunia yang diberikan tuhan kepada masyarakat Tengger.

Salah satunya adalah upacara adat Kasada.Upacara ini adalah upacara untuk memperingati pengorbanan seorang Raden Kusuma anak Jaka Seger dan lara Anteng. Selain itu upacara ini dilaksanakan oleh masyarakat tengger untuk meminta keselematan dan berkah. Upacara ini dilaksanakan padat tanggal 14 s.d. 16 bulan Kasada atau saat bulan purnama tampak di langit secara utuh setiap setahun sekali.Pada saat upacara ini berlangsung masyarakat suku tengger berkumpul dengan membawa hasil bumi, ternak peliharaan dan ayam sebagai sesaji yang disimpan dalam tempat yang bernama ongkek. Pada saat sudah mencapai di kawah gunung Bromo, seluruh sesaji tersebut dilemparkan ke tempat tersebut.

Upacara ini bertujuan untuk menjaga keselamatan para nelayan dari ganasnya ombak pantai selatan serta memohon berkah dengan cara mempersembahkan upeti kepada penguasa gaib sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat.meskipun dulunya tidak sebesar sekarang Dan Pada saat puncak acara yang disebut dengan labuh atau larung, aneka sesaji berupa makanan lezat serta berbagai hidangan sakral lainnya diceburkan ke laut. Biasanya labuh ini dilaksanakan pada pertengahan bulan maulud.

Upacara tedhak siten diadakan karena adanya kepercayaan sementara orang bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib, di- samping itu adanya kepercayaan bahwa tanah dijaga oleh Bethara Kala. Oleh karena itu si anak perlu dikenalkan kepa­da Bathara Kala sipenjaga tanah, melalui upacara yang disebut tedhak siten, agar Bathara Kala tidak marah. Sebab apabila Bathara Kala marah, akan menimbulkan suatu bencana bagi si- anak itu.
Ada ketentuan hari untuk melaksanakan upacara tedhak siten ini biasanya disesuaikan dengan weton (hari lahir) si anak Adapun.

Jembangan (bak mandi) yang diisi dengan air bunga se­taman. Sangkar ayam (kurungan : Jawa).
Benda-benda yang diletakkan dalam kurungan, dianta- ranya : padi, kapas, alat-alat tulis dan bokor yang berisi beras kuning Tikar yang masih baru sebagai alas kurungan. Tangga yang terbuat dari tebu.uadah (nasi ketan yang telah dilumatkan), juadah ini terdiri dari tujuh warna : merah/putih, hitam, biru, kuning, ungu dan merah jambu.Sajian untuk kenduri yang terdiri dari nasi tumpeng panggang ayam dan lauk-pauknya kulupan. Disamping itu juga dilengkapi dengan jajan pasar, bubur merah, bubur putih dan bubur sengkolo.

5. UPACARA SEBLANG BANYUWANGI JAWA TIMUR
Ritual Seblang adalah salah satu ritual masyarakat Using yang hanya dapat dijumpai di dua desa Kab.Banyuwangi, yakni desa Bakungan dan desa Olehsari. Seblang atau Sebele ilang (sialnya hilang) Ritual ini dilaksanakan untuk keperluan bersih desa dan tolak bala, agar desa tetap dalam keadaan aman dan tentram.
Penyelenggaraan tari adat Seblang di dua desa tersebut juga berbeda waktunya, di desa Olehsari diselenggarakan satu minggu setelah Idul Fitri, sedangkan di desa Bakungan diselenggarakan seminggu setelah Idul Adha.Para penarinya dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya penari harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya.

6. UPACARA KEBO-KEBOAN DI BANYU WANGI
Di Kota Banyuwangi terdapat sebuah suku yang memiliki kesenian unik, yaitu Suku Using yang memiliki kesenian Kebo-Keboan , masyarakat Banyuwangi berupaya keras mempertahankan kemurnian dan kesakralan kebudayaan mereka tersebut.Konon,asal muasal ritual kebo-keboan berawal terjadinya musibah pagebluk ( wabah ). Kala itu, seluruh warga diserang penyakit dan tanaman diserang hama. Banyak warga kelaparan dan mati akibat penyakit misterius. Seorang sesepuh yang sedang semedi ( bertapa ) mendapat wangsit dari semedinya di bukit tempat dia bersemedi untuk menggelar ritual kebo-keboan dan mengagungkan Dewi Sri di daerah yang terserang pageblug ( wabah ).Keajaiban muncul ketika warga menggelar ritual kebo-keboan. Warga yang sakit mendadak sembuh. Hama yang menyerang tanaman padi sirna. Sejak itu, ritual kebo-keboan dilestarikan. Mereka takut terkena musibah jika tidak melaksanakannya.Warga yang merayakan ritual ini sama seperti merayakan hari raya perbedaannya penentuan tanggal bukan mentri agama . Para sesepuhlah tempat itulah yang menentukan tanggal perayaan, berdasarkan penghitunan kalender Jawa Kuno.

7. Selametan
Upacara adat Jawa sering disebut “selametan”. Upacara ini dilakukan secara turun temurun sebagai peringatan doa. acara ini dilakukan untuk mintak doabersama dan di tujukan yang mengadakan acar selametan tersebut dalam hal selametan ialah bermacam macam-macam mintak doa pada masyarakat yang di undang dalam acara selametan (atau selamatan syukuran atas rzeki yang di terimanya agar lancer dalam usahnya ) dan untuk keselamatan dirinya / kelwarganya agar selamat untuk menjalankan kehidupannya dan adapun selamata untuk mendoakan oran yang sudah meninggal dan para leluhur  agar diberinya ketentraman serta di terima di alam kuburnya .
Upacara ruwatan adalah upacara adat Jawa yang dilakukan dengan tujuan untuk meruwat atau menyucikan seseorang dari segala kesialan, nasib buruk, dan memberikan keselamatan dalam menjalani hidup.
Upacara ruwatan misalnya yang dilakukan di dataran Tinggi Dieng. Anak-anak berambut gimbal yang dianggap sebagai keturunan buto atau raksasa harus dapat segera diruwat agar terbebas dari segala marabahaya. 
Dalam pernikahan adat Jawa ada yang dikenal juga upacara perkawinan Ada beberap tahapan yaitu :
mulai dari siraman, siraman, upacara ngerik, midodareni, srah-srahan atau peningsetan, nyantri, upacara panggih atau temu penganten, balangan suruh, ritual wiji dadi, ritual kacar kucur atau tampa kaya, ritual dhahar klimah atau dhahar kembul, upacara sungkeman . sampai sah terima pengantin dari perwakilan masing-masing pegantin baik penagntin pria maupun pengantin perempuan.
Selain upacara kenduren, di Jawa juga dikenal Upacara Grebeg. Upacara ini digelar 3 kali setahun, yaitu tanggal 12 Mulud (bulan ketiga), 1 Sawal (bulan kesepuluh) dan 10 Besar (bulan kedua belas). Upacara ini digelar sebagai bentuk rasa syukur kerajaan terhadap karunia dan berkah Tuhan.
11.               SEKATEN
 UpacaraSekaten ialah merupakan upacara adat Jawa yang digelar dalam kurun tujuh hari sebagai bentuk peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad. kata Sekaten yang menjadi nama upacara tersebut berasal dari istilah Syahadatain, yang dalam Islam dikenal sebagai kalimat tauhid. Upacara ini biasanya digelar dengan mengeluarkan kedua perangkat gamelan sekati dari keraton, yaitu:
 gamelan Kyai Gunturmadu dan gamelan Kyai Guntursari untuk diletakan di depan Masjid Agung Surakarta

12. Ngurit   Apabila sawah telah dikerjakan maka benih segera ditabur (ngurit). Pada saat ini diadakan selamatan de­ngan sajian nasi golong & Jenang abang jenang sengkolo cok bakal, jeroan ayam (isi perut ayam).
    Maksud selamatan tersebut agar benih yang ditabur dapat tumbuh subur. Setelah upacara ngurit. upacara selanjutnya ialah pada saat tandur (menanam). Pada saat ini diadakan sajian sederhana yang berwujud cok bakal yang diletakkan di petak sawah, dimana tandur dimulai. Begitu pula saat panen padi

13tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama),

14babaran (upacaramenjelang lahirnya bayi), 

15sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari dan lepasnya bekas tali   pusar        pada nayi ),

16pitonan(upacara setelah bayi berusia tujuh bulan),

17. Penduduk Jawa Timur Sebelum dilakukanlamaran, pihak laki-laki melakukan acara 
-      nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudahmemiliki calon suami), setelah itu dilakukan 
-      peningsetan (lamaran). Upacara perkawinandidahului dengan acara temu atau 
-      kepanggih. Masyarakat di pesisir barat: Tuban, Lamongan,Gresik, bahkan Bojonegoro memiliki kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar pria, pada umumnya pria yang akan masuk ke dalam keluarga wanita dan melamar pihak wanita .
                                                                                                                  Arum suci blogg

0 komentar: